Newsflash

Pameran Agro & Food Expo 2010 Hari ini akan dibuka Oleh  Menteri Pertanian  RI pada pukul 10.00 WIB
 

Simple Page Options

  Add Site to Favorites
  Add Page to Favorites
  Make Homepage
  Print Page

Info Visitor

Harga Tiket Masuk Rp. 7.500
Undangan Gratis

Acara

Sabtu, 29 Mei 2010
14.00 - 16.00
Agro & Food Buyers Meet Sellers
MEMPERTEMUKAN PEMBELI DAN PEMASOK HASIL PERTANIAN, PERKEBUNAN, PETERNAKAN DAN PERIKANAN TERPERCAYA
Oleh : Hotel Grand Hyatt, Dharmawangsa, JW Marriot, Ritz Carlton, Sultan Ciputra, Millenium, Mercure, Atlantic, Alpine, RM Ayam Bakar Pak Tarjo, Bakmi Raos, Dll

Paviliun Korea

Paviliun Korea Menampilkan Teknologi mesin

Sisa Waktu Pelaksanaan

Silahkan Login untuk bisa mendapatkan akses informasi yang penuh dari kami dan jika belum memiliki akses silahkan melakukan registrasi

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Iklan Peserta

PT Toba Surimi
powered_by.png, 1 kB

Home arrow Kabar Agribisnis
Kabar Agribisnis
Peluang Kerjasama Luar Negeri Siap Untuk Dimanfaatkan
 ”Pada dasarnya kita memilih untuk tidak bergantung dengan negara lain dan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri menjadi sebuah alternatif untuk mengurangi gap antara ketersediaan dana dalam negeri dengan dana investasi yang dibutuhkan bagi pembangunan”. Hal itu disampaikan dalam sambutan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian pada seminar Pemanfaatan Peluang Kerjasama Luar Negeri yang diselenggarakan pada tanggal 4 Maret 2010 di Hotel Permata, Bogor.

Sekjen juga memberikan arahan agar pembangunan di Indonesia dapat merata sampai ke daerah-daerah terpencil, sektor pertanian ke depan memiliki prioritas di wilayah timur Indonesia, memperhatikan prinsip kelestarian lingkungan hidup dan diversifikasi pangan.  Kebijakan sektor pertanian harus pro rakyat miskin, minimal mengurangi gap antara si kaya dan si miskin.

Pada acara yang diselenggarakan oleh Biro Kerjasama Luar Negeri (KLN), Kementerian Pertanian ini, dihadirkan pembicara dari:Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR): Julien De Meyer, ACIAR Country Manager dan Mirah Nuryati, Stakeholder Relationship Manager,Asisten Kepala Perwakilan The Food and Agriculture Organization (FAO): Dr. Benni H. Sormin, JICA Indonesia Office: Dinur Krismasari, JICA Senior Representative dan Hayato Nakajima, JICA Agriculture Policy Advisor dengan moderator Ir. Farid Hasan Baktir MEc, Kepala Biro KLN. Hadir pada pertemuan tersebut para pejabat dan staf lingkup Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Barat.
Para Narasumber menjelaskan mengenai peluang kerjasama yang dapat dimanfaatkan, prosedur dan persyaratan yang dibutuhkan dalam pengusulan proposal kerjasama dengan ketiga Lembaga Internasional tersebut.

Program ACIAR yang dapat dimanfaatkan antara lain: Beasiswa John Allwright yaitu kesempatan melanjutkan studi jenjang S2 dan/atau S3 di Australia, Beasiswa John Dillon yang memberikan pelatihan kepemimpinan bagi Manager Madya, serta pelatihan yang terkait program dalam suatu proyek.

Sedangkan FAO menegaskan kembali bahwa Keberadaan Indonesia di dunia internasional telah naik tingkat, bukan sebagai negara prioritas yang perlu dibantu lagi tetapi sudah waktunya untuk membantu negara lain.  Selanjutnya FAO menjelaskan peluang bantuan yang dapat dimanfaatkan dari FAO antara lain: Technical Cooperation Program (TCP), Telefood dan TCP Facility (TCP-F).

Diantara empat program prioritas utama JICA di Indonesia, kegiatan di sektor Pertanian termasuk dalam program Stabilnya Ketersediaan Pangan dan Peningkatan Pendapatan di Pedesaan yang merupakan isu Poverty Reduction dengan bentuk kegiatan Grant Aid, Loan Aid dan Technical Cooperation (Policy Advisor Dispatch, Technical Cooperation Project, Technical Cooperation Development Planning dan Training).
 
Sumber: bagian PBB untuk pangan dan pertanian/KLN/Setjen
 
Bakar Hutan Jadi Tabiat Buruk Petani di Mamuju
 Mamuju (ANTARA News) -Tradisi membakar hutan untuk membuka lahan pertanian di Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) masih menjadi kebiasaan buruk petani di wilayah itu, kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Mamuju, Andi Syaharuddin.

Ia mengunkapkan, masih ditemukan di sejumlah titik wilayah di Kabupaten Mamuju kebiasaan buruk petani yang membuka lahan pertanian dengan cara membakar hutan.

Oleh karena itu, kata dia, hal tersebut membutuhkan penanganan yang serius dari pemerintah agar petani tidak terus menerus membakar lahan untuk membuka lahan pertanian.

"Dibutuhkan sosialisasi yang serius dengan sosialisasi agar masyarakat merubah kebiasaannya membuka lahan dengan cara membakarnya karena kebiasaan itu akan berdampak pada kerusakan lingkungan," ujarnya.

Menurut dia, jika kebiasaan tersebut dilakukan khususnya dimusim kemarau maka hutan akan menjadi gundul karena ketika dibakar maka api akan sulit dikendalikan, dan mengakibatkan kebakaran luas yang merusak hutan.

"Dampak dari pembakaran hutan akan dirasakan sendiri petani seperti hutan akan tandus dan akan mengakibatkan banjir,"katanya.

Oleh karena itu, ia juga meminta kepada petani di wilayah itu, agar menghentikan aksinya membuka lahan untuk membakar hutan.

Sejumlah petani di kelurahan Rangas Mamuju tampak pula masih melakukan pembakaran hutan untuk membuka lahan pertanian di wilayah itu sehingga tampak puluhan hektare hutan di wilayah itu menjadi gundul.

Menurut Hamid, salah seorang warga pembukaan lahan dengan melakukan pembakaran hutan tersebut mereka lakukan karena dinilai melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar sangat efektif.

"Kami membakar lahan karena efektif disamping cepat tidak mengeluarkan banyak tenaga," katanya menambahkan.
(T.KR-MFH/A020/P003) sumber www.antaranews.com
 
Indonesia Punya Kebun Koleksi Nasional Sumber Daya Genetik Kelapa Sawit (KKN SDG KS)
SIJUNJUNG-Melihat prospek dan potensi kelapa sawit Indonesia yang semakin berkembang, Indonesia telah membangun Kebun Koleksi Nasional Sumber Daya Genetik Kelapa Sawit (KKN-SDG KS) di Sijunjung-Sumatera Barat. Daerah ini dipilih karena letaknya ditengah-tengah pulau Sumatera, Disamping itu, didaerah ini belum berkembang kelapa sawit,  sehingga lokasinya terisolasi dari kemungkinan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) serta  dukungan yang kuat dari Pemda setempat dengan menyediakan  lahan 1000 ha.  

 Tanggal 15 Februari 2010,  Dirjen Perkebunan Achmad Mangga Barani melakukan kunjungan dan penanaman perdana tanaman kelapa sawit yang akan dijadikan sebagai sumber daya genetik yang berasal dari Kamerun. Tanaman ini adalah  hasil eksplorasi dari konsorsium perusahaan perbenihan kelapa sawit. Dalam acara kunjungan ini hadir wakil dari semua perusahaan yang tergabung dalam konsorsium dan perusahaan sumber benih kelapa sawit dalam negeri.

Menurut Dirjen, KKN SDG Kelapa Sawit  ini punya nilai yang sangat strategis untuk meningkatkan mutu varietas kelapa sawit yang dimiliki Indonesia selama ini. Dirjen mencontohkan bahwa “Hanya dari dua batang kelapa sawit yang ada di kebun raya Bogor,    sekarang perkebunan sawit di Indonesia telah berkembang pesat bahkan memberikan kontribusi dalam penyediaan pangan dunia. Komoditas ini juga semakin penting artinya bagi dunia yaitu salah satu sumber bahan bakar alternatif. Dirjen mengharapkan, kebun koleksi yang luasnya 1000 Ha ini dapat dipelihara dengan baik agar secara berkelanjutan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pemuliaan tanaman (breeding),  industri perbenihan kelapa sawit Indonesia yang sangat dibutuhkan  terhadap perkembangan kelapa sawit di masa depan.

 Komoditi kelapa sawit merupakan salah satu komoditi  unggulan nasional yang berperan sangat penting dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam penyerapan tenaga kerja, kontributor penting terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional, dan devisa negara. Disamping itu industri kelapa sawit berperan dalam pemerataan pembangunan, terutama menumbuhan pusat-pusat perekonomian baru di wilayah-wilayah pedesaan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bahkan di Papua kedepan, peran komoditi ini  akan terus meningkat dengan signifikan dan pengembangannya akan dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek terutama terkait dengan upaya untuk mewujudkan industri kelapa sawit yang memiliki daya saing di pasar global secara berkelanjutan (sustainable palm oil)

Pada tahun 2009, areal kelapa sawit Indonesia tercatat sekitar 7,3 juta hektar dengan produksi kurang lebih 21,5 juta ton CPO. Areal dan produksi ini akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan investasi  perkebunan kelapa sawit yang sangat signifikan selama 2 tahun terakhir, dan diperkirakan beberapa tahun kedepan.

Terkait dengan perkembangan industri kelapa sawit  ke depan, dukungan dan eksistensi Sumber Daya Genetik Kelapa Sawit menjadi demikian penting, karena negara-negara yang memiliki Sumber Daya Genetik Kelapa Sawit dengan keragaman genetik yang luas akan mampu menghasilkan varietas-varietas unggul baru yang lebih produktif dan kompetitif, yang memang menjadi salah satu tuntutan ke depan.  
Sebab, menurut Dirjen, ke depan peningkatan produksi kelapa sawit tidak bisa terus menerus diharapkan dari perluasan tetapi dari peningkatan produktivitas. Dengan tersedianya  koleksi sumber daya genetik yang beragam diharapkan aktivitas pemuliaan akan menghasilkan varietas baru kelapa sawit dengan produktivitas tinggi sehingga peningkatan produksi dicapai bukan melalui perluasan. “Bila dihasilkan benih yang mampu menghasilkan 40 ton per ha, artinya dua kali lipat dari sekarang,  maka akan mengurangi perluasan areal yang terlalu berlebihan. Katakanlah tahun 2014 luas kebun sawit Indonesia mencapai  10 juta ha, maka dengan mempertahankan luasan tersebut, maka produksi akan dapat ditingkatkan” tegas Dirjen.

Last Updated ( Thursday, 25 February 2010 11:06 ) sumber www.deptan.go.id
Last Updated ( Sunday, 14 March 2010 )
 
AFE 2010
Last Updated ( Thursday, 22 April 2010 )
 
Tenaga Penyuluh Pertanian Di Sulsel Masih Kurang

 

Gowa- Sulawesi Selatan (Sulsel) kekurangan tenaga penyuluh pertanian, karena dua tahun terakhir tidak ada pengangkatan calon pegawai negeri sipil (CPNS), kata dosen penyuluh pertanian di Kabupaten Gowa, Tenri Bala.

"Selain itu, pada saat penerapan otonomi daerah (otda), banyak PNS fungsional dialihkan menjadi tenaga struktural, sehingga tenaga penyuluh pertanian di lapangan semakin berkurang," katanya di Makassar, Sabtu.

Menurut dia, pemerintah Provinsi Sulsel maupun pemerintah kabupaten/kota harus membuat kebijakan guna menunjang program pertanian di daerah ini, termasuk penyediaan tenaga penyuluh pertanian yang memadai. "Apalagi, Sulsel merupakan daerah penyangga pangan nasional dan memiliki sejumlah komoditas andalan," katanya.

Ia mengatakan selama ini Dinas Petanian setempat hanya memanfaatkan tenaga penyuluh lapangan honorer.

Oleh karena itu, ke depan hendaknya dibuat kebijakan bahwa tenaga honorer yang berusia 35 tahun ke bawah segera diangkat menjadi CPNS.

Sedangkan tenaga penyuluh lapangan yang telah dimanfaatkan selama sekian tahun, dan usianya sudah di atas 35 tahun, sebaiknya dijadikan pegawai tidak tetap.

Berkaitan dengan hal tersebut, kata dia, tenaga penyuluh lapangan yang statusnya honorer dan memiliki sertifikat resmi, harus diprioritaskan untuk diangkat menjadi CPNS, tanpa mengabaikan masa pengabdiannya.

Sementara itu, salah seorang tenaga penyuluh lapangan yang berstatus honorer, Sukri di Kabupaten Maros, Sulsel mengatakan dengan latar belakang pendidikan dari sekolah Kejuruan Bidang Pertanian, ia sudah empat tahun mengabdi sebagai tenaga penyuluh lapangan.

"Kami berharap, pada penerimaan CPNS 2010 tenaga penyuluh lapangan di sektor pertanian dan perkebunan mendapat perhatian, bukan hanya tenaga honorer yang bertugas di kantor saja yang diperhatikan," katanya (Ant-SS) sumber: www.selamatpagi.com

 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Results 1 - 7 of 13
No Images
© 2010 agrofood.co.id
wpcitra adalah website utama PT Wahyu Promocitra.